Bacalah Hal-hal berikut sebelum Anda menjadi Real Estate Agent

Apabila Anda sudah mempertimbangkan untuk mencari sebuah career baru, atau mungkin Anda ingin mendapatkan pekerjaan sampingan, Anda mungkin pernah berfikir untuk menjadi seorang Real Estate Agent.

Menjadi seorang realtor adalah hal yang sangat baik apabila anda menyukai hal-hal berupa property, seperti rumah atau apartemen, dan senang bekerja dengan orang banyak. Namun bagi sebagian orang pekerjaan ini bukanlah suatu pekerjaan impian sesuai yang mereka bayangkan. Ini adalah suatu hal yang umum dimana Real Estate Agent sering di salah artikan dengan sebuah pekerjaan yang dapat menghasilkan income besar tanpa harus melakukan suatu usaha apapun. Atau dengan kata lain hanya bekerja begitu saja kok bisa dapat uang banyak?

Menjual sebuah property, entah itu tanah, rumah, atau apartemen membutuhkan sebuah usaha yang tidak mudah. Walaupun ada banyak agent yang terhitung sukses, namun juga tidak sedikit agent yang sangat berjuang mati-matian hanya untuk menjual sebuah rumah, bahkan ada pula yang tidak berhasil menjual sebuah rumah pun.


Dari semua data yang sudah dikumpulkan, maka inilah hal-hal yang harus Anda perhatikan sebelum menjadi seorang Real Estate Agent – dan hal yang harus Anda pertimbangkan sebelum Anda memulai langkah anda untuk menjual sebuah property.

  • Apakah Anda memiliki waktu dan biaya untuk mendapatkan lisensi?

Hal pertama yang harus anda lakukan adalah mendapatkan lisensi keagenan. Anda dapat membuka website mengenai situs-situs yang berkaitan dengan property dan carilah sebuah komunitas dan bergabunglah di komunitas tersebut. Biasanya dari komunitas tersebut anda di-referensikan untuk bergabung di sebuah property agency. Carilah sebuah agency yang sudah tergabung dalam suatu wadah badan usaha yang sudah di-sertifikasi oleh pemerintah, seperti AREBI (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia). Setelah bergabung anda akan mendapat pelatihan / training berbayar atau free, tergantung pada agency dimana anda terdaftar. Agency yang memiliki reputasi baik dan nama yang sudah cukup besar biasanya mewajibkan Anda untuk membayar pelatihan dan kelas-kelas training mereka. Dan biasanya Anda akan menghabiskan waktu sekitar 3 sampai 6 bulan tergantung dari training yang sudah Anda pilih.

  • Dimanakah Anda akan bekerja?

Begitu Anda sudah menyelesaikan training, maka Anda dapat mencoba untuk langsung terjun ke lapangan sebagai salesperson atau consultant properti. Seorang real estate agent baru hampir secara keseluruhan bekerja dibawah payung real estate agency. Karena real estate agency selalu memberikan support dan proteksi legal kepada Anda. Jadi sebelum Anda  memutuskan untuk memilih agency terbaik untuk Anda, ada baiknya Anda bertanya-tanya dahulu kepada beberapa orang atau kerabat yang sudah pernah bekerja di agency yang ingin anda tempati, agar Anda mengetahui apa yang mereka rasakan dan pelajaran apa yang dapat Anda peroleh apabila Anda bekerja di agency tersebut.

  • Apakah Anda memiliki cukup biaya untuk modal awal Anda?

Walaupun Anda akan bekerja di bawah naungan agency, bukan berarti Anda adalah seorang pekerja kantoran yang akan selalu mendapat fasilitas gratis. Pada prinsipnya seorang real estate agent adalah seorang pengusaha yang indepedent. Anda mungkin akan mendapatkan nama ERA atau RayWhite dalam business card Anda, dan walaupun ada beberapa agency yang memberikan fasilitas business card gratis untuk semua agent-nya, tetapi pada akhirnya anda harus tetap membeli business card Anda sendiri. Modal-modal awal lainnya pada umumnya berupa spanduk, pamflet, atau jika memungkinkan anda harus me-modali website pribadi Anda sendiri.

Kemungkinan Anda akan menghabiskan sekurang-kurangnya 1 juta rupiah untuk semua start-up cost diatas, namun seiring dengan berkembangnya bisnis Anda, Anda pun pasti akan memerlukan promotion cost yang lebih banyak. Rencanakanlah semuanya dengan matang, diskusikan dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dan selalu berfikir bagaimana agar dapat menekan cost se-minim mungkin dan mendapat profit sebesar mungkin.

  • Bagaimana Anda dapat mengatur waktu Anda selama bekerja?

Ini merupakan hal yang sedikit sulit untuk seorang real estate agent baru, apalagi bagi mereka yang bekerja part-time, atau sudah memiliki keluarga dan mempunyai anak-anak kecil yang harus mereka urusi.

Klien-klien Anda pasti menginginkan waktu Anda untuk showing unit, kebanyakan di waktu week end, atau liburan. Hal ini mungkin adalah suatu benefit bagi para orang tua yang bekerja office hour, dimana di waktu week end mereka dapat memanfaatkan waktunya untuk showing unit dengan klien. Dan harus anda ketahui, tidak semua klien dapat membuat janji mereka beberapa hari sebelum waktu showing yang diinginkan. ada pun klien yang ingin showing di hari itu juga, bahkan membuat janji beberapa jam sebelumnya. Untuk itulah Anda harus betul-betul me-manage waktu Anda apabila Anda adalah seorang pekerja part-time.

Saya sarankan Anda untuk merekam sebuah pesan penerima otomatis di ponsel Anda, seperti contoh, 

Hallo, Ini Nadia, bila Anda menghubungi saya di hari Senin sampai Jumat dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore, saya sedang berada di kantor, rekam pesan Anda disini dan saya akan segera menghubungi Anda.

Tetapi harap diingat, ada pun klien yang tidak ingin berlama-lama menunggu, jadi apabila Anda tidak dapat melayani klien Anda di waktu Anda bekerja, maka jangan salahkan siapapun apabila klien yang tadinya menghubungi Anda malah menghubungi agent lain yang mungkin waktunya lebih available bagi mereka. Tetapi apabila Anda memiliki reputasi yang baik dan kinerja Anda bagus di mata klien-klien Anda, maka bukanlah hal yang tidak mungkin bila klien-klien Anda bersedia menyesuaikan waktunya dengan waktu Anda. Jadi, bersiap-siaplah akan segala kemungkinan. 

  • Baiklah, lalu berapa banyak uang yang saya dapatkan apabila saya menjadi real estate agent?

Seperti yang sudah Anda ketahui, bahwa real estate agent pada dasarnya hanya akan mendapatkan komisi, kecuali agency dimana tempat Anda bekerja memberikan gaji pokok atau uang transport perbulan. 

Bagi para pekerja part-time, hal ini mungkin bukanlah merupakan suatu hal yang berat, namun bagaimana apabila Anda tidak memiliki pekerjaan apa-apa dan memutuskan untuk menjadi seorang real estate agent baru?

Anda akan – dan sudah pasti – menjalani hari-hari anda bahkan bulan-bulan anda kedepan tanpa pemasukan sama sekali. Untuk itulah Anda harus mengatur budgeting Anda sebijaksana mungkin. Apabila Anda memiliki jiwa seorang pengusaha, maka ini adalah hal yang cukup wajar apabila Anda meminjam uang kesana-sini di awal, dengan jaminan dan mindset : Anda harus dapat mengembalikan uang-uang tersebut dan belajar untuk bisa sukses ke depan dengan mendapat berbagai pemasukan. Kalau Anda tidak memiliki mindset tersebut, maka jangan salahkan siapapun (lagi-lagi) apabila kehidupan Anda ke depan menjadi tidak teratur. Atau dengan kata lain : menjadi berantakan.

Tetapi yang perlu diingat lagi, komisi seorang real estate agent adalah tidak terbatas, ya tidak terbatas! Tergantung dari banyaknya closing deal yang bisa Anda dapat. Beberapa agent yang terbilang cukup sukses dapat meraih komisi ratusan juta rupiah pertahun. Seorang agent rata-rata mendapat komisi dari penjual property 2,5% dari nilai transaksi tiap property yang mereka jual. Nilai tersebut dapat pula dinegosiasikan. Dan bisanya komisi tersebut setengahnya dibagikan kepada representative pembeli, atau buyer agent. Dan atau ke agency, bergantung dari persentasi pembagiannya.

Sebagai contoh, kita gunakan nilai 2,5% untuk komisi dari penjualan property seharga 1 milyar rupiah. Apabila Anda menjual sebuah rumah atau apartemen seharga 1 milyar rupiah, maka Anda akan mendapat komisi 25 juta rupiah.

Lalu Anda harus membagi komisi tersebut, apabila persentase pembagiannya 60-40 ke kantor agency ( inilah bagaimana mereka mendapat pemasukan setelah Anda memakai jasa dan branding mereka untuk Anda), maka Anda akan mendapat 15 juta rupiah.

15 juta rupiah untuk sebuah property, dapat dikatakan hal yang cukup baik, bagaimana apabila Anda dapat menjual 3 buah rumah dalam sebulan? Tentunya pendapatan Anda akan lebih besar dari seorang pekerja kantoran biasa pada umumnya. Dan apabila Anda ingin menargetkan pemasukan yang lebih besar pertahun, maka dalam sebulan Anda harus dapat menjual lebih dari 1 property dengan minimal harga transaksi 3 milyar rupiah tiap property.

  • Apakah saya dapat bekerja sebagai pekerja part-time sebagai real estate agent?

Ya, dan saya sangat menganjurkan hal tersebut bagi para pemula.

Seperti yang sudah Anda ketahui di point yang saya sebutkan di atas,  bahwa bagian tersulit dalam bisnis real estate adalah memiliki dan menjalin hubungan baik dengan klien-klien Anda. Dan memiliki banyak klien yang sudah percaya terhadap Anda bukanlah suatu hal yang mudah apabila Anda tidak memiliki cukup pengetahuan dan reliabilitas yang Anda bangun dari awal. Anda bahkan mungkin membutuhkan waktu sekitar 6 bulan sebelum Anda berhasil menjual property pertama Anda.

Menjual property secara part-time dapat mencegah Anda dalam menghadapi kesulitan finansial di awal Anda memulai bisnis ini.
Bahkan menjadi seorang part-timer real estate agent adalah sebuah keputusan karir yang cukup baik, apalagi bagi para ibu rumah tangga yang sudah memiliki anak-anak di rumah. Dikarenakan waktu kerja yang cukup fleksibel. Anda dapat bekerja dari rumah (mengirimkan email atau membuat proposal bisnis, membuat promosi online, dan mengiklankan listing anda), dan ketika Anda harus pergi showing, Anda dapat menitipkan anak-anak Anda kepada babysitter atau saudara Anda.

Pada Akhirnya, apabila seorang klien sudah cukup betah dan cukup percaya kepada Anda karena Anda adalah seorang agent yang profesional, maka tidak menutup kemungkinan klien tersebut dapat belanja property lebih dari 1 kali dengan Anda.

Image credits : Shaadi Magic, The Balanced

Real estate agent, apakah sebuah pekerjaan yang menyenangkan?


Sejatinya saya adalah pemain musik, pecinta film dan kesenian, di mana hal itu sangat bertentangan dengan pekerjaan yang tengah saya geluti saat ini. Tidak jarang orang-orang di sekitar saya pun sempat bertanya dan wondering why : mengapa kamu pilih pekerjaan itu? Apakah itu sebuah keputusan yang tepat? Baiklah, mari kita flash-back sebentar, dan inilah yang terjadi di dalam kehidupan saya.

Paradigma mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ; apakah itu baik dan buruk atas sebuah transisi pada passion yang sudah kita miliki sempat membuat saya gentar, sehingga menimbulkan satu pertanyaan dalam benak saya : apakah saya bisa melakukan hal ini? 

Awalnya, keadaan terus memaksa saya untuk menemukan suatu point dimana saya harus melangkah maju untuk menuju hidup yang lebih baik dengan pengambilan keputusan yang tepat. Karena saya menyadari bahwa passion utama saya sebagai pemain musik, dan dengan genre musik saya yang cenderung minoritas menyebabkan kurangnya apresiasi dari masyarakat kita, sehingga sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk segera mencapai kebebasan finansial dalam periode waktu yang saya inginkan. Apalagi mengingat background pendidikan saya hanyalah lulusan sma dan background keluarga saya bukanlah dari background keluarga kaya. 

Dan akhirnya saya memutuskan untuk bekerja. Ya, bekerja untuk orang lain. Di mana di dalam kesempatan tersebut saya menemukan sebuah hal baru yang bernama “marketing” atau pemasaran. Kendati terseok-seok dan tak berdaya ketika awal bekerja, saya sangat menyukai pekerjaan tersebut. Dan dalam kesempatan itu saya belajar sebuah ilmu yang ternyata merubah pandangan hidup saya. 

Dalam dunia marketing, atau istilahnya “jualan”, kita diperkenalkan akan berbagai hal yang menarik. Bertemu dengan banyak orang baru, mengenal beragam karakter manusia, negosiasi harga, dan belajar bagaimana caranya agar produk yang kita jual bisa cepat terjual sesuai target yang ditentukan. Suatu hal yang mungkin tidak mudah untuk dilakukan, apalagi bagi pemula yang latar belakang dan purpose-nya berbeda, atau dengan kata lain : tidak berbakat atau tidak menyukai dunia marketing sama sekali. Walaupun Ray Kroc, McDonald’s founder berkata ; faktor penentu kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh bakat, kejeniusan maupun latar belakang pendidikannya. That’s true, though.

Waktu pun berlalu, dan saya berfikir bahwa saya harus melakukan sebuah progress, progress dan progress. Dan saya pun menemukan sebuah dilemma karena akhirnya dipertemukan dengan dua hal : apakah saya harus tetap bekerja atau haruskah saya memulai bisnis saya sendiri? Pokok-pokok pemikiran tersebut akhirnya kembali menggoyahkan saya dalam pengambilan keputusan. 

Dalam bukunya : The Perfect Business oleh Michael LeBoeuf, Ph. D, mengatakan bahwa apabila kita setiap hari tetap bekerja untuk orang lain dan tetap mengharapkan gaji bulanan dan biaya pensiun yang stabil di masa tua, tak ubahnya kita seekor harimau di sebuah penangkaran, yang selalu diberi makan oleh sang pemilik penangkaran dalam porsi yang sama di setiap waktu yang sudah ditentukan. Lalu bagaimana dengan harimau yang berada di hutan rimba? Harimau-harimau yang berada di hutan sudah pasti mencari mangsa-nya sendiri. Apakah mereka bisa mendapatkan seekor sapi yang besar atau hanya seekor ayam yang kecil? Hasil akhir yang akan didapat pun bergantung dari usaha mereka sendiri. 


Sungguh suatu basic analogy yang cukup impressive menurut saya. Yang akhirnya membuka mindset saya untuk berfikir bahwa saya harus memulai usaha saya sendiri untuk segera mencapai kebebasan finansial di usia muda. Dan dengan berbagai pertimbangan yang cukup matang, saya pun memutuskan untuk berhenti bekerja ; yang sudah saya lakukan selama kurang lebih tujuh tahun, meninggalkan zona nyaman dan membuka usaha sendiri kecil-kecilan. Karena perlu diingat, ketika pertama saya mencoba membuka usaha sendiri, saya tidak memiliki uang yang cukup, atau bisa dikatakan modal saya nol besar.

Di tahun-tahun pertama hal itu terasa amat berat bagi saya, dan berbagai jenis usaha saya jalani, termasuk berbagai jenis produk terkait barang. Bahkan saya sempat juga mencoba menjadi pedagang kaki lima. Dan terkadang saya juga masih tetap bekerja di dunia musik apabila ada sebuah project, untuk dijadikan penghasilan tambahan. Namun semuanya itu saya kerjakan dengan rasa sukacita, walaupun sebagai manusia biasa, ada saatnya kita mengeluh ; seperti di saat ketika kita menjumpai beberapa produk yang belum laku terjual sesuai target yang kita inginkan. Bagaimanapun, pada akhirnya saya tetap senang melakukannya karena semua bisnis itu milik kita sendiri dan kita sendiri yang menjalankannya. So, it’s worth the effort.

Hidup sebagai entrepreneur dan freelancer itu bisa dikatakan mudah atau tidak mudah, karena grafik hidup kita tidak bisa selalu stable seperti pekerja di kantor yang selalu mendapat income tetap tiap bulan. Akan ada suatu masa di mana kita mendapat income yang cukup besar dari sebuah project, tapi di bulan depan bisa jadi tidak ada sama sekali project yang bisa dijalankan. Untuk itulah seorang entrepreneur diwajibkan agar dapat mengatur finansialnya sebijaksana mungkin. Dan di tahun-tahun pertama memulainya, saya merasa bahwa saya masih gagal, sehingga saya harus mencoba berbagai macam usaha yang pada akhirnya membuat saya tidak fokus. Layaknya seorang remaja yang masih mencari jati dirinya. Jatuh dan bangun.


Seperti yang sudah saya katakan, bahwa entrepreneur life is like the ocean, it goes up and down. Namun kita harus ber-prinsip bahwa di akhir tujuan itu harus selalu ada peningkatan. Dan perjalanan menuju kesana itu pasti sangat seru dan menarik. Akhirnya seiring berjalannya waktu saya menemukan sesuatu hal yang baru, yaitu real estate business. Di mana pada saat itu saya berfikir saya tidak mungkin bisa melakukannya, apalagi hanya dengan modal pas-pasan. Tidak lama kemudian, pemikiran negatif saya pun terpatahkan seketika, dan tiba-tiba dua quote favorit saya terngiang-ngiang di kepala saya, menembus alam bawah sadar saya. “They can because they think they can” -Virgil, Roman poet, dan “nothing is impossible in this world to a willing heart” -Abraham Lincoln.

Apabila diingat lagi, memberanikan diri untuk terjun ke dunia bisnis properti mungkin adalah hal ternekat dalam hidup saya. Dimana pada saat itu hampir seluruh teman-teman seumuran saya rata-rata sudah mempunyai penghasilan yang cukup besar dan memiliki finansial yang mapan dari tempat mereka bekerja, dan mereka pun merekomendasikan saya untuk bekerja di tempat mereka bekerja. Namun anehnya saya menolaknya dan bersikeras untuk tetap terjun di dunia bisnis properti dan bergabung di real estate agency, lalu menjadi real estate agent dengan modal nol dan hanya mendapat penghasilan berupa transport perbulan yang sangat minim.

Namun berbekal ilmu marketing konvensional saya yang seadanya, hari pertama saya bekerja sebagai real estate agent tidaklah serumit yang saya bayangkan sebelumnya, walaupun ada beberapa hal baru secara teknis, dan ranah baru bagi saya karena bisnis tersebut berkaitan dengan penjualan jasa dan kita harus berperan sebagai middle-man atau problem solver antara penjual dan pembeli. Overall, seluk beluk di dunia properti dapat dipelajari dengan cepat seiring berjalannya waktu. Seperti mencari listing properti, harga tanah, property trend, rent charge, jenis bangunan, perpajakan, urusan legal ke pejabat pembuat akte tanah / notaris, bank, developer, dan mengetahui client profiles, dimana profil-profil klien saya di sini berbeda dengan profil klien saya dalam bisnis sebelumnya. Tetapi hal yang paling penting adalah : saya menyukai pekerjaan tersebut.

Mengapa saya menyukai pekerjaan tersebut? Sewaktu saya menjadi real estate agent saya merasakan sebuah kebebasan. Walaupun agency di tempat saya bekerja mengharuskan agen-agennya untuk absen setiap hari di kantor, setidaknya saya dapat mengatur waktu saya untuk melakukan bisnis lain, sehingga tidak seperti pekerja kantoran pada umumnya, yang harus fokus bekerja 8 jam ; bahkan lebih ketika waktu lembur, dari hari Senin sampai Jumat. 

Dan satu hal lagi, closing deal adalah tujuan utama dari semua real estate agent, dimana pihak pembeli dan penjual properti sudah menemukan win-win solution atas keputusan yang sudah disepakati. Lalu pihak penjual memberi kita komisi karena propertinya telah berhasil terjual melalui bantuan kita. Closing deal merupakan sebuah achievement tersendiri bagi real estate agent atas segala proses yang sudah terlaksana dengan matang dari awal menjual properti sampai properti tersebut akhirnya terjual. Saya masih ingat saat closing deal pertama saya, dan itu adalah moment yang sangat menggembirakan dalam hidup saya. 


Setelah itu saya terus berusaha agar bisa mendapat second closing deal, third, fourth, dan seterusnya. Dan saya merasa pekerjaan ini sangat cocok dan nyaman untuk saya. Namun sekali lagi, kata hati saya mengatakan bahwa saya harus terlepas dari agency tersebut dan harus memulai membangun real estate agency sendiri! Ya! Dan sekali lagi, saya memberanikan diri untuk resign dari agency tersebut, lalu tidak lama kemudian saya sudah menjadi independent agent. Dan saya siap berjuang untuk menapaki tangga kesuksesan demi masa depan yang lebih baik.

Untuk tambahan, ketika menjadi independent agent, saya lebih betul-betul merasakan kebebasan dalam bekerja. Tidak ada tekanan dari principal / atasan, dan ketika tidak ada showing unit dengan klien, saya pun dapat bekerja di rumah, coffee shop, dan di mana pun saya berada. Intinya saya lebih fleksibel. Saya pun dapat leluasa me-manage bisnis lainnya. I can do it, both, simultaneously. Namun menjadi independent agent bukanlah suatu keputusan yang tepat bagi para agent pemula. Jadi apabila Anda berminat menjadi real estate agent, ada baiknya Anda bergabung terlebih dahulu dengan real estate agency yang sudah terpercaya agar Anda mendapat pemahaman yang cukup mengenai seluk beluk dalam dunia properti.

Dunia yang belakangan ini sarat dengan informasi dan teknologi, sehingga mengharuskan kita agar kita selalu berkembang. Penerapan marketing konvensional seperti iklan di media cetak, koran, spanduk, dan sebagainya mungkin akan segera usang, digantikan oleh berbagai marketing communication method baru seperti digital dan online atau internet marketing through social media. Hal tersebut tentunya dapat diaplikasikan pula sebagai the most effective marketing method untuk para real estate agent. Dan terbukti sangat efektif dalam menjaring klien-klien Anda.

Karena cakupannya yang luas, bisnis properti yang sukses tidak bisa selalu direct selling dalam menjual properti dari listing yang anda miliki. Untuk itulah bisnis ini mengharuskan kita untuk cooperate dengan sesama pelaku bisnis. Selain harus memiliki fondasi marketing yang baik serta memiliki database listing dan client yang eligible sebagai senjata pamungkas Anda, anda pun harus cooperate dengan sesama real estate agent, kontraktor, developer, interior designer, bank, notaris, dan apabila perlu anda harus meng-hire content writer untuk website properti anda, serta tetap menjalin kerja sama dengan affiliate marketer dan business partnership lainnya, dalam bidang apapun. Intinya, networking yang kuat adalah hal yang paling penting untuk anda dalam membangun bisnis ini, dan saya rasa itu pun berlaku di semua bidang bisnis yang lain. 


In the end, faktor penentu kesuksesan anda sebagai real estate agent bukan berasal dari seberapa banyaknya modal Anda, seberapa jeniusnya Anda, latar belakang pendidikan Anda, ataupun bakat Anda. Melainkan Anda harus persistent dalam menjalankan bisnis anda. Yes, persistence is the key. Terus berusaha dan tetap belajar. Perbanyak networking. Jangan mudah mengeluh dan tetap optimis dalam memandang segala hal, lalu temukan segera segala pemecahan masalahnya. Hal itu pulalah yang masih dan akan terus saya jalani. Kalau Anda bertanya apakah seorang real estate agent bisa sukses? Jawabannya adalah bisa.

Menyenangkan bukan? Selamat mencoba.

Image credits : John Welch Georgia Real Estate, Juan Great Lap, Careerbright, Animals.desktopnexus